Tampilkan postingan dengan label Pelajaran Firman Allah By~A 2008. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelajaran Firman Allah By~A 2008. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Agustus 2009

Esensi Kebaikan


Esensi kebaikan adalah arti yang paling dasar dari suatu kebaikan. Melakukan sesuatu yang baik tetapi kehilangan esensi kebaikan, perbuatan itu menjadi sia-sia.
Orang yang kehilangan esensi kebaikan, ia akan berbuat baik tetapi ia menjadi congkak dan bangga akan dirinya sendiri, ia akan lupa segala sesuatu yang baik yang bisa ia kerjakan berasal dari Tuhan, ia tidak rendah hati tetapi meninggikan dirinya karena merasa mampu melakukan kebaikan dan pada akhirnya ia akan merendahkan orang lain dari sikap, perkataan dan pandangannya.
Orang yang kehilangan esensi kebaikan biasanya mengerjakan kebaikan karena motivasi tertentu supaya ia bisa mendapatkan sesuatu dari apa yang sudah ia kerjakan.

Ø Menjaga esensi kebaikan
Salah satu cara menjaga esensi kebaikan adalah merendahkan hati dan mengendalikan diri.

Yohanes pembaptis mengatakan “ Biarlah Engkau semakin besar dan aku semakin kecil”, ini adalah ekspresi dari kerendahan hati Yohanes pembaptis.

Rasul Paulus mengatakan “Sesungguhnya harta kekayaan ini aku simpan dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa segala sesuatunya berasal dari Allah”, adalah ekspresi rendah hati.

Seorang rasul harta kekayaannya adalah pelayanannya, ia juga menyatakan itu berasal dari Allah bukan karena kemampuannya. Kekayaannya adalah pelayanannya yang ia simpan dalam bejana tanah liat, yaitu tubuhnya sendiri yang digambarkan mudah pecah jika tanpa ditopang kekuatan dari Allah.

Perkataannya yang lain, “Aku melatih diriku sedemikian rupa, supaya jangan setelah aku melakukan semuanya itu aku sendiri ditolak”, adalah gambaran bahwa rasul Paulus mengerti esensi kebaikan dan menjaganya.



Seorang muda yang kaya berkata kepada Yesus “Guru yang baik…”, tetapi sebenarnya ia sendiri hendak menyatakan bahwa dirinya adalah baik karena perbuatan yang sudah ia kerjakan, karena itu Yesus berkata, “Mengapa engkau mengatakan sesuatu yang baik kepadaku? Hanya Allah saja yang baik”.

Orang muda yang kaya ini mengajukan pertanyaan, “Perbuatan baik apa yang harus aku lakukan supaya mendapat hidup kekal?”, melalui pertanyaan ini sebenarnya ia merasa bangga karena perbuatan-perbuatan baik yang sudah ia kerjakan. Ia tidak menyadari bahwa sesuatu yang baik yang bisa ia kerjakan berasal dari Allah dan Allah saja yang baik dan layak mendapat pujian.

Mengenai pertanyaan orang muda yang kaya ini, Yesus tidak memberikan jawaban langsung kepadanya (bagaimana mendapatkan hidup yang kekal?), karena Yesus sudah mengetahui hati dan pikiran orang muda yang kaya ini, karena ia bangga dengan perbuatannya yang baik dan kekayaannya. Baru setelah itu Yesus berkata, “Jika engkau hendak sempurna , juallah seluruh hartamu berikan kepada mereka yang miskin dan ikutlah aku”, orang kaya ini tidak sanggup mengerjakannya, karena banyak hartanya, pernyataan Yesus ini merujuk pada kelemahan dari orang muda yang kaya ini, sebenarnya ia bisa berbuat baik karena ia memiliki banyak harta. Dengan hartanya seakan ia bisa melakukan segala sesuatu tetapi Yesus mematahkan pandangan si kaya ini.

Ketika kita bangga dengan perbuatan baik yang sudah kita kerjakan, kita akan kehilangan esensi kebaikan. Adalah lebih baik jika kita tidak mengingat lagi kebaikan yang sudah kita kerjakan, tetapi terus melakukan kebaikan itu. Janganlah mencanangkan perbuatan baik yang sudah kita kerjakan.

Ingat manusia tidak jatuh karena dosa saja tetapi perbuatan yang baikpun bisa membuat manusia jatuh dalam kesombongan.

Melakukan kebaikan itu penting, bahkan Tuhan Yesus sendiri berkata, “Bukan orang yang menyebut NamaKu Tuhan, Tuhan masuk dalam kerajaan BapaKu, tetapi mereka yang menuruti dan melakukan perintah-perintahKu”.

Tetapi FirmanNya selanjutnya mengatakan bahwa pada waktu itu banyak orang akan berkata bahwa mereka bernubuat demi namaNya, mereka melakukan mujizat demi namaNya, bahkan menumpangkan tangan bagi mereka yang sakit, tetapi Yesus berkata, “Enyahlah kamu semua pembuat kejahatan” (Kitab Matius).

Jadi sekalipun kita sudah berbuat baik tetapi kita jatuh dalam kesombongan dan bangga pada diri sendiri atau melakukan kebaikan dengan motivasi tertentu tanpa ketulusan, kita kehilangan esensi kebaikan dan kita akan ditolak. Seharusnya kita bangga kepada Allah dan memuliakan Allah yang sudah mengaruniakan kasih karuniaNya sehingga kita bisa meneladani Dia, karena RohNya yang ditaruh dalam kita yang menopang kita mengerjakan rencana-rencanaNya yang baik dalam hidup kita.

FirmanNya mengatakan, “Belajarlah dari padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati…”.

Tujuan Hidup Manusia


Ø Apakah tujuan hidup anda?
Jika Allah menciptakan segala sesuatu pasti mempunyai tujuan, termasuk kita sebagai manusia. Seseorang yang menciptakan alat/mesin, menginginkan alat itu bisa berfungsi seperti tujuan diciptakan.
Jika alat itu tidak berfungsi seperti tujuan diciptakan maka si pencipta akan kecewa. Demikian juga Allah menciptakan manusia menginginkan supaya manusia hidup sesuai dengan maksud dan tujuan Allah.

Tujuan utama Allah menciptakan manusia adalah mempermuliakan namaNya.

Tujuan lain Allah menciptakan manusia adalah supaya manusia menemukan kebahagian di dalam hidupnya. Sebab tidak mungkin Allah menginginkan manusia hidup di dalam penderitaan.

Ø Bagaimana manusia bisa menemukan kebahagiaan di dalam hidup?

1. Mengerjakan perintah-perintah dan larangan Allah dan hidup sesuai kehendakNya.
“Berbahgia adalah mereka yang mendengar perintah-perintahKu dan yang melakukannya”.

“Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintahKu, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti” (Yesaya 48: 18).

“Berbahagialah kamu yang lapar,…”.

“Berbahagialah kamu yang haus akan kebenaran…”.

“Berbahagialah kamu yang murah hatinya…” dst.

Cara ini adalah sama dengan mengerjakan perintah utama Allah yang pertama, yaitu:
“Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dengan segenap akal budi dan kekuatanmu”.

2. Mengerjakan perintah utama Allah yang ke-2.
“Kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri”.

Saat kita mengasihi sesama, kita melihat mereka seperti diri kita sendiri. Dengan melayani dan melihat mereka dan diri kita sendiri adalah gambaran Allah, sehati dan sepenanggungan kita akan menemukan kebahagiaan sejati hadir dalam hidup kita. Karena kebahgiaan sesungguhnya tidak didapat dari harta, status sosial yang tinggi (pangkat, jabatan atau gelar), pamor dan kekuatan, tetapi mengerjakan sifat kasih yang diberikan Allah kepada manusia.

Saat kita menyimpan sakit hati/dendam, kita tidak menemukan kebahagiaan. Ini adalah hal yang merugikan dan menyakiti diri sendiri tetapi saat kita mengasihi dalam wujud mengampuni kita menemukan kebahagiaan. iika kita tidak mengampuni kesalahan saudara kita, Allah juga tidak akan mengampuni dosa dan pelanggaran kita.

Ø Mengasihi sesama berarti mengasihi Allah.
Alamat Tuhan tidak sekedar di dalam tubuh kita sendiri, tetapi di setiap pribadi sesama kita. Firman Tuhan:
“Ketika engkau melihat mereka lapar dan haus dan engkau memberi mereka makanan dan minuman, engkau melakukannya untuk Aku”.

“Ketika engkau melihat mereka telanjang dan engkau member mereka pakaian, engakau mengerjakannya untuk Aku”.

Sesama kita adalah wujud gambaran kita sendiri dan gambaran Allah.

3. Tujuan hidup manusia berikutnya (setelah manusia jatuh dalam dosa), menentukan hidup yang kekal setelah kehidupan yang sekarang.

Orang yang bijak akan berjaga-jaga dan tahu menentukan tujuan hidupnya.
“Ajar kami menghitung hari-hari kami sedemikian, sehingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Doa Musa dalam Mazmur)

Suatu hari kelak engkau akan mengenakan kain putih berkilau-kilauan, itu adalah jerih payahmu, yaitu amal perbuatan baikmu selama engkau hidup di dunia”.

Perbuatan yang baik/sesuai dengan kehendak Allah dan perbuatan jahat, menentukan kehidupan kita di masa mendatang, hidup kekal/kematian kekal.

“Apa yang engkau ikat di dunia akan terikat di surga, apa yang engkau lepas di dunia akan terlepas di surga”.

Berbuat dosa mengaburkan nama kita di dalam kitab kehidupan sampai akhirnya nama kita benar-benar terhapus.

Tuhan juga ingin hidup kita diberkati, dalam pergertian bukan saja dalam berkat jasmani, tetapi juga kerohanian yang bertumbuh semakin serupa dengan gambaranNya.