Kamis, 02 September 2010

Pelajaran dari sekawanan angsa



Ada seorang pria yang tidak percaya Tuhan, bahkan ia ragu mengenai keberadaan Tuhan. Ia dan keluarganya tinggal di suatu daerah pertanian. Istrinya adalah orang yang percaya kepada Tuhan dan mendidik anak-anaknya dengan ajaran agama. Kadang-kadang pria itu mengejek keyakinan istrinya dan terus-menerus meyakinkan istrinya bahwa Tuhan itu tidak ada.

"Itu omong kosong! Kenapa Tuhan merendahkan diri-Nya sendiri dan menjadi manusia seperti kita? Itu adalah cerita yang paling menggelikan.." kata pria itu.

Pada suatu hari di musim salju, istri dan anak-anaknya pergi ke gereja dan meninggalkan pria itu di rumah sendirian. Setelah mereka pergi, tiba-tiba angin bertambah kencang dan salju mulai turun di tengah-tengah badai. Pria itu duduk untuk bersantai di depan api unggun.

Kemudian, ia mendengar suatu bunyi yang sangat keras. Sesuatu telah menghantam jendela rumahnya. Dan, muncul lagi bunyi hantaman tersebut.

Ia melihat dari jendela untuk mengetahui apa yang terjadi, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa. Lalu ia nekad keluar untuk melihat lebih jelas. Di lahan dekat rumahnya, ia melihat suatu kejanggalan, yaitu sekawanan angsa.

Angsa-angsa tersebut tampaknya hendak terbang untuk mencari daerah yang lebih hangat di selatan, tetapi mereka terjebak di badai salju ini. Badai salju tersebut telah menutupi penglihatan mereka untuk terbang ke selatan.

Mereka terjebak di tanah pertanian pria itu, tanpa makanan dan tempat bernaung, tidak bisa melakukan apa-apa, hanya menggeleparkan sayap mereka dan terbang pendek tanpa arah. Pria itu merasa kasihan melihat sekawanan angsa tersebut dan ingin membantu mereka. Ia berpikir, gudang di tanah pertaniannya mungkin bisa menjadi tempat yang baik bagi sekawanan angsa itu untuk tinggal. Tempat itu hangat dan aman, tentunya mereka dapat tinggal di situ semalam sambil menunggu badai salju berhenti. Maka, ia membuka pintu gudang tersebut bagi sekawanan angsa tersebut.

Ia menunggu, mengamati mereka, berharap mereka memperhatikan pintu gudang yang terbuka itu dan masuk ke dalam. Akan tetapi, sekawanan angsa tersebut tidak menyadarinya. Kemudian, ia berjalan menuju mereka untuk mendapatkan perhatian mereka, tetapi mereka malah menghindar darinya karena ketakutan.

Ia masuk ke rumah dan keluar dengan membawa beberapa potong roti, memecahkan roti itu, dan menjatuhkan roti itu untuk membuat jejak ke gudang bagi sekawanan angsa tersebut. Tetapi angsa-angsa tersebut tidak mengerti apa yang dilakukannya.

Pria itu mulai frustasi, maka ia mulai mencoba mengusir sekawanan angsa itu ke arah gudang. Angsa-angsa tersebut panik dan berkeliaran ke segala arah kecuali ke arah gudang itu. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan angsa-angsa tersebut ke arah yang benar di mana mereka bisa tinggal dengan aman, hangat dan terlindungi.

Akhirnya, pria itu benar-benar frustasi, ia berseru, "Kenapa mereka tidak mengikutiku ? Apakah mereka tahu, bahwa gudang itu adalah satu-satunya tempat di mana mereka bisa selamat dari badai salju ? Bagaimana bisa aku mengajak mereka ke suatu tempat untuk menyelamatkan mereka ?"

Ia berpikir sejenak dan menyadari bahwa angsa-angsa tersebut tidak ingin mengikuti manusia. Ia berkata kepada dirinya sendiri, "Bagaimana aku bisa menyelamatkan mereka ? Satu-satunya cara yang mungkin adalah menjadi salah satu dari mereka. Jika aku bisa menjadi salah satu dari mereka, maka aku pasti bisa menyelamatkan mereka. Mereka akan mengikutiku dan aku akan mengajak mereka ke arah keselamatan."

Saat itu, ia diam dan memikirkan apa yang telah dikatakannya.

Kata-kata yang diucapkannya itu mengiang di pikirannya : "Jika aku bisa menjadi salah satu dari mereka, maka aku pasti bisa menyelamatkan mereka".

Akhirnya, ia mengerti apa kasih Tuhan terhadap manusia dengan menjadi salah satu dari manusia untuk menyelamatkan manusia dan ia berlutut di atas salju dan menyesali perbuatannya.

Kiriman dari 'Domba yang hilang'.

Suara Tuhan



Seorang anak muda pergi ke sebuah tempat Pemahaman Alkitab (PA) yang diadakan pada setiap hari Rabu. Di sana sang Pendeta membawakan tema mengenai mendengarkan Tuhan dan mentaati perintah-Nya. Si anak muda, sambil menyimak kemudian bertanya-tanya di dalam hatinya "Apakah Tuhan masih berbicara kepada kita?".

Setelah kelas PA selesai, dia pergi bersama dengan beberapa temannya ke sebuah kedai kopi untuk mendiskusikan kata-kata Pendeta tadi sambil makan kue dan secangkir kopi sebelum pulang ke rumah masing-masing. Hal yang hampir sering mereka lakukan setelah PA selesai. Mereka saling memberikan kesaksian bahwa Tuhan telah memimpin hidup mereka dengan cara yang berbeda-beda.
Setelah hampir jam 10 malam, mereka keluar dari kedai tersebut untuk pulang ke rumah masing-masing.
Anak muda itupun mengendarai mobilnya pulang. Di dalam mobil dia berdoa "Tuhan, kalau Engkau masih suka berbicara kepada kami, berbicaralah kepadaku, aku akan mendengar, aku akan melakukan apapun yang aku bisa untuk mentaatinya".

Selama perjalanan pulang, dia mendadak mempunyai ide yang aneh untuk membeli satu galon susu. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata "Tuhan, Engkaukah itu?".

Tetapi dia tidak mendengar jawaban apapun dan dia tetap berjalan pulang. Akan tetapi keinginan untuk membeli satu galon susu tersebut terus ada di kepalanya. Kemudian si anak muda ini berpikir mengenai Samuel yang tidak mengenali suara Tuhan and bagaimana Samuel berlari ketakutan menghampiri Eli.

"Baik Tuhan, kalau ini Engkau, aku akan membeli susu tersebut", pikirnya ini bukan merupakan hal yang sulit untuk suatu tes ketaatan and susu ini masih bisa dipakai untuk hal lain. Dia kemudian berhenti, membeli satu galon susu dan kembali menyetir menuju rumah.


Pada saat melewati sebuah perempatan yang menuju ke Seventh Street, dia merasa bahwa dia harus berbelok ke jalan tersebut. "Tidak mungkin" pikirnya dan dia terus menyetir melewati perempatan tersebut. Akan tetapi, kembali pikiran itu ada di kepalanya dan dia merasa bahwa dia harus berputar arah untuk kembali ke Seventh Street. Akhirnya pada perempatan berikutnya, dia memutar mobilnya dan menuju Seventh Street.

Setengah bercanda dia berteriak "Baik Tuhan, aku taat". Dia berjalan beberapa saat sebelum dia merasa bahwa dia harus berhenti. Dia berhenti dan memperhatikan sekelilingnya. Dia berada di suatu daerah pertokoan yang agak lumayan, tidak kumuh tapi juga bukan daerah yang mahal. Sudah tidak ada kegiatan sama sekali dan semua rumah di sana sudah gelap yang sepertinya semua orang sudah berada di tempat tidur.

Kembali dia merasakan sesuatu di dalam hatinya "Pergi dan berikan susu ini ke rumah yang ada di seberang jalan".

Si anak muda melihat ke rumah tersebut. Rumah tersebut sudah gelap dan tampaknya si pemilik rumah sedang pergi atau sudah tidur. Dia kembali duduk di mobilnya dan berkata "Tuhan, ini kelewatan, orang di dalam rumah tersebut sedang tidur dan kalau aku membangunkan mereka, mereka pasti marah dan aku akan terlihat seperti orang bodoh".

Akan tetapi kembali dia merasa bahwa dia harus memberikan susu ini. Akhirnya dia membuka pintu mobilnya "Baik Tuhan, apabila ini Engkau, aku akan pergi ke rumah itu dan memberikan susu ini kepada mereka. Apabila Engkau memang ingin melihat aku seperti orang bodoh, tidak apa-apa, aku ingin menjadi orang yang taat. Pasti hal ini akan ada manfaatnya, akan tetapi jika aku mengetuk pintu dan tidak ada jawaban, aku akan pergi dari sini".

Dia membuka pintu mobilnya dan menekan bel di depan pintu. Dia mendengar ada ribut-ribut di dalam rumah dan ada teriakan laki-laki "Siapa di situ? Apa maumu?".

Kemudian pintu terbuka sebelum si anak muda tersebut dapat pergi menghindar. Lelaki tersebut berdiri dengan celana jeans dan kaos oblong, sepertinya dia baru bangun dari tempat tidur. Dia tampak tidak senang melihat orang asing di depan pintu rumahnya. Si anak muda memberikan susu tersebut "Ini saya membawa susu".

Laki-laki tersebut segera mengambil susu tersebut dan sambil membawa susu tersebut ke dalam rumah dia berteriak dalam bahasa Spanyol. Kemudian seorang wanita menghampiri dan membawa susu tersebut ke dapur. Laki-laki tersebut mengikutinya sambil menggendong seorang bayi. Bayi tersebut sedang menangis. Air mata mengalir di muka lelaki tersebut. Lelaki tersebut berkata sambil setengah menangis "Kami baru saja berdoa. Kami banyak tagihan dan kami sudah tidak punya uang lagi bahkan tidak ada uang untuk membeli susu untuk bayi kami. Kami meminta Tuhan untuk menunjukkan bagaimana caranya kami dapat mendapatkan susu untuk bayi kami".

Istrinya kemudian berteriak "Kami meminta Tuhan untuk mengirimkan malaikat dengan membawa ........, hei apakah kamu seorang malaikat?"

Anak muda tersebut kemudian mengambil dompetnya dan memberikan semua uangnya ke tangan lelaki tersebut. Dia berbalik dan berjalan kembali ke mobilnya dan air matanya mengalir membasahi pipinya. Dia yakin sekarang kalau Tuhan masih menjawab doa.




God's voice

A young man went to a place of understanding the Bible (PA) held on every Wednesday. There, the Reverend brought the theme of listening to God and obey His commandments. The young man, as he listened then wonder in his heart "Does God still speak to us?".

After the PA class ended, he went with some friends to a coffee shop to discuss the words of the Reverend had while eating cake and a cup of coffee before returning to their homes. It is almost often they do after the PA is completed. They each testified that God had led their lives with a different way.
After nearly 10 hours of the night, they came out of the store to return to their homes.

The young man was driving his car home. In the car he was praying "Lord, if you still like to talk to us, talk to me, I will hear, I'll do whatever I can to obey them."

During the ride home, he suddenly had a strange idea to buy a gallon of milk. He shook his head and said "Lord, Is that you?".

But he did not hear any answer and he still walked home. But the desire to buy a gallon of milk has continued to exist in his head. Then this young man thought about Samuel who do not recognize the voice of God and how Samuel went to Eli's running scared.

"Good Lord, if this is you, I will buy the milk", she thought, this is not a difficult thing for a test of obedience and milk can still be used for other things. He then stopped, buy a gallon of milk and drove back toward home.


At the time of passing through a crossroad that leads to Seventh Street, he felt that he must turn to the street. "No way" he thought and he kept driving through the intersection. However, again there was the thought in his head and he felt that he should turn around to go back to Seventh Street. Finally at the next intersection, he turned the car around and headed down Seventh Street.

Half jokingly he yelled "Good Lord, I obey. He walked a few moments before he felt he had to stop. He stopped and watched around. He was in a shopping area rather decent, not shabby but not too expensive areas. There was no activity at all and all the house there was dark which seemed everyone was in bed.

Back he felt something in his heart "Go and give this milk to the house which is across the street."

The young people look to the house. The house was dark and apparently the landlord was away or asleep. She sat back in his car and said "God, it went too far, people in the house was asleep and if I wake them, they would be angry and I will look like fools."

But again he felt that he must give them the milk. Finally she opened her car door "Good Lord, if this you, I will go to the house and give the milk to them. If you really want to see me like a fool, that's okay, I want to be a devout man. Surely it This will be beneficial, but if I knocked on the door and no answer, I'll go from here ".

He opened the car door and rang the bell at the front door. He heard no noise inside the house and there were shouts of men "Who's there? What do you want?".

Then the door opened before the young man can go away. The man was standing with my jeans and T-shirts, like he just got out of bed. He looked unhappy to see a stranger on his doorstep. The young child feeding is "Here I bring the milk."

These men as soon as he took the milk and bring the milk to the house he shouted in Spanish. Then a woman came over and carrying the milk toward the kitchen. The men followed him in her arms a baby. The baby was crying. Tears streamed down the face man. The man said, half crying, "We were just praying. We were a lot of bills and we have no money do not even have money to buy milk for our baby. We ask God to show you how we can get the milk for our baby."

His wife then yelled "We ask the Lord to send angels to bring ........, hey are you an angel?"

The young man then took his wallet and gave all his money into the hands of man. He turned and walked back to his car and the tears flowed down her cheeks. He was convinced now that God still answers prayer.

Sent by Herlambang.

Pesan dari neraka


Suatu hari, ada seorang pemuda sedang tidur di kamarnya, dan dalam tidur itu dia bermimpi didatangi "Pesan Dari Neraka" berupa sehelai surat yang dikirim oleh sahabatnya. Si pemuda dengan ketakukan serta kebingungan membaca surat itu :

Hallo teman, aku sekarang berada di neraka, yang mana sakit sekali. Di mana panas melebihi api waktu di bumi. Aku mengirim surat ini karena aku menganggap aku berada di sini itu semua karena kamu.
Kamu berkata engkau adalah teman dekatku setiap pagi siang dan malam kita bertemu kita bekerja bersama sama, kita belajar bersama sama kita tertawa bersama sama. Padahal kamu tahu mengenai kebenaran kamu tahu bahwa manusia harus lahir baru kamu mengetahui mengenai bahwa Yesus adalah juru selamat manusia tetapi kamu tidak pernah cerita mengenai itu kepadaku.

Kamu tahu bahwa neraka adalah nyata dan benar ada kamu tahu bahwa surga juga nyata dan benar ada dan kamu juga tahu bahwa upah dosa adalah maut ...neraka. Tetapi kamu tidak pernah bercerita tentang itu kepada aku. Sekarang aku berada di api siksaan yang mana aku akan tinggal selama-lamanya di sini..

Apakah ini yang kau anggap teman, sahabat.... apakah kau puas sementara aku di neraka, kau berada di surga. Apakah kau puas aku menangis, berteriak, tersiksa, tubuhku yang dihinggapi ulat-ulat, dan api yang panas, aku sungguh kecewa dan menyesal mempunyai teman seperti engkau.

Pemuda itu terbangun dan menangis tak henti hentinya.... dan dia sadar bahwa itu hanya mimpi malam saja. Kemudian dia berjanji bahwa besok pagi dia akan bersaksi tentang Yesus, surga, neraka dll kepada sahabatnya itu.

Pagi harinya, si pemuda berada di depan pintu rumah sahabatnya. Ayah sahabatnya pun keluar.

"Bisa saya bertemu dengan anak bapak?"

"Nak, bukankah engkau tahu bahwa anak saya telah meninggal tadi malam karena kecelakaan mobil."



Sahabatku..!!
Marilah, sebelum terlambat ceritakanlah tentang Kasih Setia TUHAN pada keluarga, saudara, sahabat bahkan teman dekat kita. Amin....!!


Sent by Christ is the answer.

Rahasia 90/10



Rahasia 90/10 sungguh luar biasa! Sangat sedikit orang yang mengetahuinya dan menggunakannya. Hasilnya? Jutaan orang menderita stress yang tidak perlu, pencobaan, masalah, dan luka hati. Tampaknya tak ada yang beres dalam hidup ini.

Setiap hari merupakan hari yang buruk. Hal-hal tak menyenangkan selalu terjadi.

Stress yang terus menerus, tak ada sukacita, dan hubungan persahabatan yang retak. Waktu dipenuhi kekuatiran, kemarahan yang meretakkan persahabatan, hidup tampak suram dan tak dapat dinikmati sepenuhnya. Tak ada kawan. Hidup menjadi membosankan. Apakah Anda begitu? Bila ya, jangan patah semangat. Anda bisa berubah! Pahamilah dan gunakanlah rahasia 90/10. Ini akan mengubah hidup Anda.

Bagaimana rahasia itu?

10% hidup Anda adalah yang terjadi pada Anda yang tak dapat Anda hindari. Namun 90% hidup Anda ditentukan oleh bagaimana Anda menyikapi dan bereaksi terhadap yang 10% itu.

Apakah artinya ini? Kita tak dapat mengendalikan 10% yang terjadi pada diri kita. Kita tak dapat menghindari mobil yang rusak. Kita tak dapat menghindari pesawat yang datang terlambat, yang menyebabkan jadwal kita kacau. Anda mungkin terjebak dalam kemacetan lalu lintas. Kita tak dapat mengendalikan yang 10% ini.

Yang 90% berbeda. Anda dapat menentukan 90% sisanya ini.

Bagaimana? Dengan reaksi Anda. Anda tidak dapat mengendalikan nyala merah pada lampu pengatur lalu lintas, tetapi Anda dapat mengendalikan reaksi Anda.

Coba kita gunakan contoh ini.

Anda sedang makan pagi dengan keluarga Anda. Anak perempuan Anda menumpahkan secangkir kopi pada kemeja Anda. Anda tak dapat mengendalikan yang terjadi ini. Tetapi yang terjadi berikutnya ditentukan oleh reaksi Anda.

Anda mengumpat. Anda memarahi anak perempuan Anda karena telah menumpahkan kopi. Setelah memarahi anak Anda, Anda berganti menyalahkan isteri Anda karena meletakkan cangkir kopi itu terlalu di pinggir meja. Terjadi pertengkaran singkat. Anda bergegas naik ke atas dan mengganti kemeja Anda.

Ketika kembali ke bawah Anda mendapatkan anak Anda menyelesaikan makan paginya sambil menangis. Ketika ia siap untuk berangkat sekolah, ia sudah ketinggalan bis.

Isteri Anda harus segera berangkat bekerja. Anda harus mengantar anak Anda ke sekolah. Karena terlambat, Anda memacu mobil Anda dengan kecepatan 60 kilometer per jam di jalanan dengan batas kecepatan 45 kilometer per jam.

Setelah terlambat 15 menit dan membayar denda tilang 60 dolar, Anda sampai ke sekolah. Anak Anda lari ke gedung sekolah tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Anda. Setelah terlambat 20 menit di kantor Anda sadar telah lupa membawa tas Anda.

Hari Anda telah dimulai dengan buruk. Ketika Anda melewati hari itu, segala sesuatu tampak makin buruk dan buruk. Tiba waktunya Anda pulang. Ketika Anda tiba di rumah ada kekecewaan dalam relasi Anda dengan isteri dan anak Anda.

Mengapa? Karena reaksi Anda pagi tadi.

Mengapa Anda mendapatkan hari yang buruk?

A. Apakah kopi yang menyebabkannya?

B. Apakah anak Anda yang menyebabkannya?

C. Apakah polisi yang menilang Anda yang menyebabkannya

D. Apakah Anda yang menyebabkannya?

Jawabnya adalah D. Anda tidak dapat menghindarkan yang terjadi dengan kopi Anda. Tetapi reaksi Anda dalam lima detik yang pertama yang menyebabkan hari buruk Anda.

Berikut ini adalah bagaimana yang bisa dan seharusnya terjadi.

Kopi menumpahi kemeja Anda. Anak Anda hendak menangis. Tetapi dengan ramah Anda berkata, “Tak apa sayang, hati-hatilah lain kali.”

Anda bergegas ke atas mengganti kemeja Anda. Ketika Anda turun, Anda melihat anak Anda lari ke bis sekolah. Ia menengok sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Anda mengecup isteri Anda sebelum Anda berdua berangkat bekerja. Anda tiba 5 menit lebih awal dan dengan riang menyalami staf Anda. Bos Anda memuji Anda betapa baik pekerjaan Anda hari itu.

Perhatikan perbedaannya. Dua buah skenario. Keduanya berawal sama. Tetapi berakhir berbeda. Mengapa? Karena REAKSI Anda. Anda memang tidak dapat menghindari 10% yang terjadi. Tetapi sisanya yang 90% ditentukan oleh reaksi Anda.

Ini beberapa cara untuk menggunakan rahasia 90/10.

=> Bila seseorang berkata yang negatif tentang Anda, jangan marah. Jangan biarkan komentar negatif itu mempengaruhi Anda. Bereaksilah secara wajar dan janganlah merusak hari Anda. Reaksi yang salah dapat menyebabkan Anda kehilangan kawan, dipecat, menjadi stress dan sebagainya.

=> Anda kehilangan pekerjaan Anda. Mengapa harus kehilangan tidur nyenyak dan menjadi cemas. Gunakan waktu dan energi “kuatir” Anda untuk mencari pekerjaan lain.

Anda sekarang tahu rahasia 90-10. Gunakan itu dan Anda akan takjub akan hasilnya.

Yang Anda pikir, yang Anda tahu, atau yang Anda percayai, hanya berakibat kecil.

Yang memberikan akibat adalah yang Anda LAKUKAN.



Sent by Jonathan Andri (Christ is the answer).

Lili



Dahulu di negeri Cina, hiduplah seorang gadis bernama Li-Li yang menikah dan tinggal di wisma mertua indah. Dalam tempo singkat, Li-Li tahu bahwa ia tidak cocok sama sekali dengan ibu mertuanya. Karakter mereka jauh berbeda, dan Li-Li sangat berang terhadap banyak kebiasaan ibu mertuanya. Juga, mertuanya itu terus menerus mengritiknya. Hari berganti hari, begitu pula bulan berganti bulan. Li-Li dan ibu mertuanya tidak pernah berhenti berdebat dan bertengkar. Yang memperburuk suasana ialah adat kuno Cina dimana Li-Li dituntut harus selalu menundukkan kepala untuk menghormati mertuanya dan mentaati semua kemauannya. Semua kemarahan dan ketidakbahagiaan di dalam rumah itu menyebabkan kesedihan yang mendalam pada hati suami Li-Li, seorang yang berjiwa sangat sederhana. Akhirnya, Li-Li tidak bisa tahan lagi terhadap sifat buruk dan kesewenang-wenangan ibu mertuanya, dan ia benar-benar telah bertekad untuk melakukan sesuatu. Li-Li pergi menjumpai seorang teman ayahnya ya itu tuan Wang yang mempunyai Toko Obat Cina. Ia menceritakan situasinya dan minta diberikan ramuan racun untuk dapat menuntaskan masalahnya dalam sekali pukul.

Sinshe Wang berpikir keras sejenak dan akhirnya berkata:
"Li-Li saya mau membantu kamu menyelesaikan masalahmu, tetapi kamu harus mendengarkan saya dan mentaati apa yang saya sarankan." Li-Li berkata, "OK pak Wang, saya akan mengikuti apa saja yang bapak katakan yang harus saya perbuat." Sinshe Wang masuk ke ruang belakang, dan kembali beberapa menit kemudian dengan sebungkus ramuan obat. Ia berkata kepada Li-Li, "Kamu tidak bisa memakai racun keras yang mematikan seketika untuk meyingkirkan ibu mertuamu, karena hal itu akan membuat semua orang menjadi curiga. Oleh karena itu, saya memberi kamu ramuan beberapa jenis tanaman obat yang secara perlahan-lahan akan menjadi racun didalam tubuhnya. Setiap hari sediakan makanan yang enak-enak dan masukkan sedikit ramuan obat ini ke dalamnya. Maka, supaya tidak ada yang curiga saat ia mati nanti, kamu harus hati-hati sekali dan bersikap sangat bersahabat dengannya. Jangan berdebat dengannya, taati semua kehendaknya, dan perlakukan dia seperti seorang ratu."

Li-Li sangat bahagia. Ia berterima kasih kepada tuan Huang dan buru-buru pulang ke rumah untuk memulai rencananya untuk membunuh ibu mertuanya. Minggu demi minggu, bulan demi bulan telah lewat, dan setiap hari Li-Li melayani mertuanya dengan makanan yang sudah "dibumbuinya". Ia mengingat semua petunjuk tuan Wang tentang hal mencegah kecurigaan, maka mengendalikan amarahnya, mentaati ibu mertuanya dan memperlakukannya seperti ibunya sendiri. Setelah enam bulan lewat, suasana di dalam keluarga itu berubah secara drastis.

Li-Li sudah mampu mempraktekkan pengendalian amarahnya sedemikian rupa sehingga ia menemukan dirinya tidak pernah lagi marah atau kesal. Ia tidak pernah berdebat dengan ibu mertuanya selama enam bulan terakhir karena ia menemukan bahwa ibu mertuanya kini tampaknya lebih ramah dan lebih mudah untuk diajak hidup bersama.

Sikap ibu mertua terhadap Li-Li telah berubah, dan ia mulai mencintai Li-Li seperti puterinya sendiri. Ia terus menceritakan kepada kawan-kawan dan sanak familinya bahwa Li-Li adalah menantu yang paling baik yang mungkin ia peroleh. Li-Li dan mertuanya saling memperlakukan satu sama lain seperti layaknya seorang ibu dan anak yang sesungguhnya. Suami Li-Li sangat bahagia menyaksikan semua yang terjadi ini. Suatu hari, Li-Li pergi menjumpai sinshe Wang dan meminta bantuannya sekali lagi. Ia berkata, "Pak Wang yang baik, tolong saya untuk mencegah supaya racun yang saya berikan kepada ibu mertua saya jangan sampai membunuhnya! Ia telah berubah menjadi seorang wanita yang begitu baik, sehingga saya mencintainya seperti kepada ibu saya sendiri. Saya tidak mau ia sampai mati karena racun yang pernah saya berikan kepadanya." Tuan Wang tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Li-Li tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Saya tidak pernah memberi kamu racun. Ramuan yang saya berikan kepadamu itu hanyalah ramuan penguat badan untuk memperbaiki kondisi kesehatan beliau. Satu-satunya racun yang ada ialah yang terdapat didalam pikiranmu sendiri dan di dalam sikapmu terhadapnya, tetapi semuanya itu telah disapu bersih dengan cinta yang kamu berikan kepadanya."


Sent By Domba yang hilang (Christ is the answer).

Malaikat kecil



Pada setiap Minggu siang, sesudah ibadah pagi berakhir, Pak Pendeta dengan anak laki-lakinya yang berumur 11 tahun pergi ke kota untuk membagikan traktat. Namun pada hari Minggu siang itu udara di luar terasa sangat dingin karena hujan telah menyirami bumi sejak pagi. Ketika saat untuk membagikan traktat tiba, anak laki-laki itu mulai bersiap-siap mengenakan baju hangatnya dan berkata, "Aku sudah siap, Pa!" "Siap untuk apa?" Pendeta itu menjawab. "Pa, bukankah ini waktu bagi kita untuk membagikan traktat-traktat ini?". Pendeta itu menjawab, "Nak... di luar udara sangat dingin dan hujan masih turun." Anak itu memandang papanya dengan penuh keheranan, "Tapi Pa, meskipun hujan turun, bukankah masih ada banyak orang yang belum mengenal Yesus dan mereka nanti akan masuk neraka?" Pendeta itu menjawab, "Tapi nak... aku tidak ingin pergi dalam cuaca seperti ini." Dengan sedih anak itu memohon, "Pa... aku harus pergi, boleh, kan?" Pendeta itu ragu-ragu sejenak lalu berkata, "Kamu tetap ingin pergi? Kalau begitu, ini traktat-traktatnya dan hati-hatilah di jalan, ya." "Terima kasih, Pa!!!" Lalu anak itu bergegas meninggalkan rumah dan pergi menembus hujan dan udara luar yang sangat dingin.

Anak laki-laki berusia sebelas tahun ini berjalan di sepanjang jalan jalan kota sambil membagi-bagikan traktat Injil dari rumah ke rumah. Setiap orang yang ditemuinya di jalan diberinya traktat. Sesudah 2 jam berjalan di tengah-tengah hujan, anak ini menggigil kedinginan tapi masih ada satu traktat Injil terakhir yang masih di tangannya. Lalu ia berhenti di suatu sudut jalan dan mencari seseorang yang dapat diberinya traktat, tapi jalanan itu sudah sepi sama sekali. Lalu ia menuju ke rumah pertama yang dilihatnya di ujung jalan itu. Ia berjalan mendekati pintu depan rumah itu dan membunyikan bel.

Setelah ia menekan bel, tidak ada jawaban dari dalam. Lalu ia menekan bel lagi dan lagi, tapi tetap tidak ada jawaban. Ditunggunya lagi beberapa waktu, namun masih saja tidak ada jawaban. Akhirnya, anak laki-laki ini memutuskan untuk pergi, tapi ada sesuatu yang mencegah keinginannya untuk pergi, maka sekali lagi, dia menuju pintu, menekan bel dan mengetuk pintu keras-keras dengan tangannya. Ia menunggu, ada perasaan kuat yang membuatnya tetap ingin menunggu di depan rumah itu. Dia menekan bel lagi, dan kali ini pintu itu perlahan-lahan dibuka.

Nampak seorang wanita yang berwajah sedih berdiri di depan pintu. Wanita itu dengan pelan bertanya, "Ada apa, nak? Apa yang dapat kulakukan untukmu?"
Dengan mata bersinar-sinar dan tersenyum, anak laki-laki ini berkata, "Ibu, maafkan aku karena mengganggumu, tapi aku hanya ingin mengatakan bahwa Yesus sungguh-sungguh mengasihimu, dan aku datang ke rumah ini untuk memberikan traktat Injil terakhir yang aku miliki. Traktat Injil ini akan menolong Ibu untuk dapat mengetahui segala sesuatu tentang Yesus dan Kasih-Nya yang besar."

Anak itu memberikan traktat terakhirnya kepada wanita itu dan ia segera pergi. Saat beranjak pergi, wanita itu berkata, "Terima kasih, Nak! Tuhan memberkatimu!"

Hari Minggu berikutnya, Pak Pendeta, papa dari anak laki-laki tadi, berdiri di balik mimbar dan memulai ibadahnya dengan pertanyaan, "Adakah di antara jemaat yang ingin memberikan kesaksian atau ingin membagikan sesuatu?"

Di barisan kursi paling belakang, seorang wanita terlihat perlahan- lahan berdiri. Saat ia mulai bicara, nampak wajahnya berseri-seri dan ia berkata, "Tidak satupun di antara anda yang mengenal aku. Aku belum pernah ke gereja ini sebelumnya. Anda perlu ketahui, hari Minggu yang lalu aku bukanlah seorang Kristen. Suamiku telah meninggal beberapa waktu yang lalu dan meninggalkan aku sendiri di dunia ini."

"Hari Minggu yang lalu," lanjut wanita itu, "dinginnya hatiku melebihi dinginnya cuaca dan hujan di luar rumah. Aku berpikir aku tidak kuat dan tidak sanggup lagi untuk hidup. Lalu aku mengambil tali dan sebuah kursi, kemudian naik tangga menuju ke loteng rumah. Aku mengencangkan ikatan tali kuat-kuat di palang kayu penopang atap, lalu berdiri di kursi dan mengikatkan ujung tali yang lain di leherku. Aku berdiri di kursi itu dengan hati yang hancur. Saat aku hendak menendang kursi itu, tiba-tiba bel rumahku berbunyi nyaring."

"Aku menunggu beberapa saat sambil bertanya dalam hati, 'siapakah yang membunyikan bel itu?'. Aku menunggu lagi, karena bel itu berkali- kali berbunyi dan semakin lama kedengarannya semakin nyaring, apalagi ketika terdengar ketokan pintu. 'Siapa yang melakukan hal ini?' tanyaku dalam hati, 'Tak ada orang yang pernah membunyikan bel rumah dan mengunjungiku'. Lalu aku mengendorkan ikatan di leherku dan bel yang berbunyi mengiringi langkahku menuju pintu depan di lantai bawah."

"Ketika kubuka pintu, aku hampir tidak percaya dengan apa yang aku lihat, karena di teras rumahku berdiri seorang anak anak laki-laki yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Wajahnya berseri-seri seperti malaikat dan senyumnya... oh aku tidak dapat menggambarkannya pada anda! Dan perkataan yang diucapkannya sungguh menyentuh hatiku yang telah lama beku, 'Ibu, aku hanya ingin mengatakan bahwa Yesus sungguh- sungguh mengasihimu.' Lalu dia memberiku traktat Injil yang saat ini kupegang."

"Saat malaikat kecil itu menghilang dari rumahku, menembus dingin udara dan hujan, aku menutup pintu dan membaca setiap kata dalam traktat Injil ini. Aku kembali ke loteng untuk mengambil tali dan kursi yang akan kupakai untuk bunuh diri, karena aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Anda lihat, sekarang aku seorang Anak Raja yang bahagia dan karena ada alamat gereja ini di bagian belakang traktat, maka aku datang ke tempat ini untuk mengucapkan terima kasih pada malaikat kecil yang datang tepat pada waktu aku membutuhkannya. Tindakannya itu telah menyelamatkan jiwaku dari hukuman neraka yang kekal."

Seluruh jemaat di gereja itu meneteskan air mata. Seiring dengan pujian syukur yang dinaikkan untuk memuliakan Raja, yang bergema di setiap sudut bangunan gereja, Pak Pendeta turun dari mimbar dan pergi menuju ke bangku di barisan depan, tempat dimana "malaikat kecil" itu duduk. Pak Pendeta itu menangis tak tertahankan dalam pelukan anaknya.

Sent by Domba yang hilang, (Christ is the answer).

Levi's



Tahukah Anda ketika demam emas sedang melanda Amerika di tahun 1848, ada seorang pemuda yang baru berusia 20 tahun berniat mengadu nasib dengan meninggalkan kota kelahirannya, New York. Namanya adalah Levi Strauss.

Di New York, Levi hanyalah seorang penjual pakaian. Ia berangkat ke California hanya berbekalkan beberapa potong tekstil yang bisa dijualnya selama menempuh perjalanan ke Barat.

Dengan modal nekat yang dimilikinya, sesampainya di California, Levi menjual semua barang yang dimilikinya kecuali segulung kanvas. Segulung kanvas? Apa gunanya kanvas? Siapa yang mau memakai pakaian yang dibuat dari kanvas? Atau memang hal itu mungkin?

Kanvas yang bagi orang tak berguna itu tak membuat Levi menyerah dan berhenti berpikir. Di California, Levi memperhatikan bahwa para pekerja tambang emas memiliki celana yang cepat sekali rusak. Satu-satunya kanvas yang dimilikinya ia gunakan untuk membuat celana kerja dan menjual celana itu kepada para penambang. Ternyata celana dari kanvas itu laku keras. Banyak penambang yang membeli celana kanvas dari Levi.

Levi sebenarnya tidak sepenuhnya suka dengan bahan kanvas. Ia pun mulai memakai bahan lain yang dipesannya dari Genoa, Italia. Para pemintal di sana menyebut bahan tersebut dengan nama “genes”. Levi mengubah nama itu menjadi “jeans”, dan mulailah ia memproduksi celana jeans pertamanya, yang diberi merk “Levi’s”.

Hanya dalam waktu singkat celana ini menjadi “pakaian resmi” para penambang dan koboi, dan akhirnya dapat kita temui sekarang sebagai “pakaian kebangsaan” banyak orang.

Sama seperti Levi, apa yang ada di tangan Anda saat ini? Jangan pernah menyerah karena Anda tidak akan pernah tahu akan menghasilkan apakah hasil kerja tangan Anda sepanjang Anda tidak menyerah dengan keadaan.
Lakukanlah semua kebaikan yang dapat Anda lakukan, dengan segala kemampuan Anda, dengan semua cara yang Anda bisa, di segala tempat, setiap saat, kepada semua orang, selama Anda bisa.
(Samuel Wesley)

sent by my friend, Lisa esther (Succes is my story).